Mengurus pernikahan bukanlah suatu hal yang sangat mudah. Jika mengurus suatu event atau acara, kita memiliki banyak panitia yang bisa membantu. Tetapi jika di dalam pernikahan, panitia intinya cuma berdua dong. Jadi kebayang ribetnya gimana kan?

Jadi setelah acara lamaran di awal Januari 2018 kemarin, kami sudah memulai merancang-rancang list vendor dan budget yang kami perlukan. Resepsi kami rencanakan akan dilangsungkan di Januari 2019. Waktu 1 tahun memang terasa panjang, tapi tidak terasa karena banyaknya hal yang perlu kami persiapkan.

Salah satu hal yang paling menghambat (menurut aku) adalah masalah jarak. Aku stay di Medan, si koko stay di Tokyo, tapi resepsinya di Bandung. Jadi enggak ada yang bisa koordinasi langsung dengan vendor-vendor di Bandung. Beruntung, mama mertua sangat bersemangat dalam membantu proses persiapan pernikahan ini, sehingga kami merasa sangat terbantu.

To be honest, kami banyak mengubah plan pernikahan.

Plan pertama kami adalah melangsungkan acara pernikahan seperti umumnya, pemberkatan dan resepsi di hari yang sama, dengan acara sangjit seminggu sebelum pernikahan di Bandung. Alasannya adalah supaya kedua keluarga tidak perlu bolak-balik untuk melakukan prosesi sangjit, melainkan langsung sekalian saja datang ke Bandung.

Plan pertama ini sebenarnya sudah oke, namun satu-satunya masalah besar di sini adalah aku tidak bisa langsung ikut berangkat dengan si koko ke Jepang karena masalah visa. Jadi, kalau aku mau stay di Jepang, aku harus mengurus visa tipe Dependent. Salah satu persyaratan membuat visa itu adalah aku memerlukan Certificate of Eligibility (CoE) yang dikeluarkan oleh imigrasi di Jepang. CoE baru bisa kita minta kalau surat nikah kami sudah ada. (Untuk lebih jelas mengenai visa Dependent dan CoE, klik di sini)

Jadi, kalau kami baru nikah di bulan Januari, otomatis surat nikah baru selesai setelah 1-2 minggu, dan proses pembuatan CoE di Jepang tidak bisa diprediksi, dari beberapa sumber yang aku baca disebutkan pembuatan CoE paling cepat selesai dalam 1 minggu, tetapi bisa juga sampai 3 bulan. Tergantung tingkat kesibukan dari kantor imigrasinya. Jika dihitung pait-paitnya berarti aku 4 bulan setelah menikah baru bisa menyusul ke Jepang.

Karena tidak mau menunggu lama, kami berusaha mencari solusi lainnya dan kemudian ketemu dengan plan kedua. Jadi di plan kedua ini, khusus untuk pemberkatan pernikahan kami majukan di beberapa bulan sebelumnya (kebetulan dari si koko ada rencana pulang ke Indonesia di pertengahan tahun ini). Rencananya setelah pemberkatan selesai, surat nikah akan langsung dibawa si koko ke Jepang untuk mengurus CoE di sana terlebih dahulu.

Dan ketika berdiskusi dengan wedding organizer (WO) kami, dia menyarankan untuk sangjit sebaiknya dimajukan juga karena sebenarnya prosesi sangjit itu seharusnya dilaksanakan sebelum pemberkatan pernikahan. Kami diskusikan dengan kedua pihak keluarga dan keduanya setuju untuk mengadakan prosesi sangjit terlebih dahulu di siang hari, kemudian dilanjutkan dengan prosesi pemberkatan di sorenya.

Kebayang di bulan Juli kemarin kami harus menyelesaikan prewedding, sangjit, dan pemberkatan pernikahan dalam waktu satu minggu. Belum lagi, kami harus melakukan survei beberapa vendor yang belum kami dapat.

Oh ya, salah satu hal yang perlu diurus sebelum melakukan pemberkatan pernikahan adalah kami harus menyiapkan beberapa dokumen yang diperlukan. Untuk pemberkatan kami diadakan di kota asal si koko, yaitu di vihara Cianjur.

Dokumen yang perlu aku siapkan adalah sebagai berikut:

1. Fotokopi akta lahir

2. Fotokopi ktp aku dan ktp kedua orangtua

3. Fotokopi kartu keluarga

4. Fotokopi kartu Visudhi

5. Surat N1, N2, dan N4 (diminta ke lurah daerah asal)

6. Surat keterangan belum menikah (diminta ke lurah daerah asal)

Note: Dokumen yang diperlukan untuk pengurusan surat nikah mungkin bisa berbeda sedikit antara satu daerah dengan daerah lain, jadi akan lebih baik jika bisa ditanyakan terlebih dahulu ke catatan sipil masing-masing daerah yaa

Kemarin saat baca-baca, banyak yang mempertanyakan apakah surat numpang nikah perlu dibuat, termasuk aku yang sampai menanyakan ke petugas lurah dan departemen agama Buddha di kota aku. Dan ternyata, surat numpang nikah itu hanya khusus untuk agama Islam, di mana jika salah satu pihak akan melangsungkan pernikahan di kota lain yang bukan merupakan daerah asalnya. Untuk agama lainnya tidak diperlukan pembuatan surat numpang nikah ini.

Jadi surat yang perlu aku urus hanya surat N1, N2, dan N4. Untuk tata cara pengurusan surat ini tidak bisa aku jabarkan karena kebetulan aku salah seorang kenalan ayah aku adalah petugas di kelurahan kami. Jadi kami meminta tolong untuk dibantu pengurusan surat tersebut.

Proses lamanya surat nikah diterbitkan setelah prosesi pernikahan juga tergantung pada catatan sipil masing-masing daerah. Salah satu teman aku bahkan belum mendapatkan surat nikah resmi dari catatan sipil padahal sudah menikah hampir 1 tahun. Aku udah deg-degan mikirin gimana kalau surat nikahnya gak terbit-terbit, padahal itu syarat utama untuk membuat CoE. Untungnya surat nikah kami berhasil diterbitkan 3 hari setelah pemberkatan pernikahan kami, sehingga bisa langsung dibawa oleh si koko ke Jepang untuk mengurus CoE deh.

Next di part 2 aku akan membahas lebih detail lagi untuk masalah persiapan pernikahan kami kemarin, seperti lebih membahas ke arah vendor-vendor. Stay tune <3

One thought on “My Wedding Rush (Part 1)”

  1. content that is very helpful for people who are going to get married, then what if the country is different, does it require more requirements than marriage done by people who are countrymen?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *