Pada suatu hari yang cerah, saya mendapat notifikasi chat masuk dari seseorang.

Yuk main ke Belitung yuk!

Dan itu merupakan awal dari jejak perjalanan kami menuju Negeri Pelangi.

Untuk mencegah perjalanan ini menjadi sekedar wacana belaka, kami langsung mencari tiket penerbangan murah dan men-survey private tour yang bagus. Karena dari Medan tidak ada direct flight menuju Tg Pandan, jadi saya pergi mengunjungi teman saya terlebih dahulu di Jakarta dan berangkat bareng keesokan harinya (maklum cuma saya sendiri yang domisili di Medan TT).

Setelah mendapatkan berbagai rekomendasi tour, pilihan kami jatuh pada tour Visit Belitong (IG: @visitbelitong) karena paket yang mereka tawarkan cukup menarik ditambah dengan adanya dokumentasi menggunakan Go Pro dan Drone.

Untuk tour kami memilih paket 3D3N + Leebong Island. Kenapa 3D3N? Karena untuk hari terakhir hanya drop bandara berhubung kami mengambil pesawat pagi dari Tg Pandan ke Jakarta. Untuk harganya adalah Rp 2,500,000 dan sudah termasuk fasilitas di bawah:
– Hotel Grand Orion 3 malam (free Breakfast)
– Lunch 3x
– Dinner 3x
– Mie Belitong Atep + Es Jeruk Kunci
– Coffee Break 1x
– Mobil Toyota Avanza full tank
– Driver as Guide and Photographer 😉
– Boat Wisata Island Hopping
– Snorkling Gear
– Floatist Float (Untuk Island Hopping)
– Tiket masuk tempat wisata (kecuali Museum Kata Andrea Hirata)
– Dokumentasi Go Pro & Drone
– Editing Video
– Air Mineral
– Pick Up & Drop Airport

PS: Harga tour ini juga dipengaruhi oleh pilihan hotel kita, semakin tinggi bintang hotelnya maka semakin mahal pula harganya. Untuk Grand Orion sendiri merupakan hotel bintang 3, dan menurut saya hotelnya bagus banget dan bersih, minusnya sih hanya warna airnya sedikit kekuningan.

Hari 1 Penjelajahan di Belitung Timur

Subuh pukul 04.30 kami sudah berkumpul di bandara Soekarno-Hatta Jakarta karena pesawat kami dijadwalkan take-off pukul 05.55. Setelah perjalanan 1 jam menggunakan pesawat, kami sampai di bandara H.A.S. Hanandjoeddin pukul 7 lewat. Guide kami, Mas Jack sudah siap menunggu di pintu kedatangan dengan memegang kertas bertuliskan nama teman saya. Bandara H.A.S. Hanandjoeddin ini ukurannya kecil sehingga hanya ada 1 pintu keluar, jadi tidak perlu khawatir untuk kesulitan mencari tour guide kalian.

Perut kami keroncongan karena belum sempat sarapan pagi tadi, jadi kami berangkat menuju ke Mie Belitong Atep, salah satu kuliner yang wajib dicoba di Belitung, terlebih dahulu. Namun sayangnya Mie Atep tidak buka (mungkin karena tanggal merah), jadi kami ke toko Wan Bie untuk menikmati Mie Belitong dan Jeruk Kunci. Rasanya mirip mie rebus (kuliner di Medan) atau Lo Mie (kuliner di Bandung). Untuk jeruk kunci rasanya mirip rasa jeruk nipis.

IMG_20170921_081003_HDR
Rumah Makan Wan Bie
IMG_20170921_082811_HDR
Mie Belitong dan Jeruk Kunci, salah satu kuliner khas dari Belitong

Selesai mengisi perut kami drop dan menitipkan koper-koper dulu di hotel sebelum melanjutkan perjalanan kami ke Belitung Timur untuk mengunjungi SD Laskar Pelangi, Rumah Keong, Museum Kata Andrea Hirata, Kampung Ahok, Vihara Dewi Kwan Im, dan Pantai Burung Mandi.

Destinasi pertama kami adalah SD Laskar Pelangi. SD Laskar Pelangi ini merupakan replika dari SD Muhammadiyah Gantong yang sebenarnya dan digunakan sebagai lokasi syuting film Laskar Pelangi yang terkenal itu. Di SD inilah anak-anak Laskar Pelangi menimba ilmu. Di tengah lapangan berpasir putih berdiri bangunan sekolah yang terdiri dari 2 kelas. Lokasi ini cukup populer dijadikan sebagai lokasi wisata dan pemotretan karena pemandangannya yang indah dan bangunan yang antik.

20170921_102317
Di depan SD Muhammadiyah Gantong (Replika SD Laskar Pelangi)
20170921_102807
Suasana di dalam ruang kelas bersama anak-anak lokal
20170921_102517
Dua orang cowok ini berdandan layaknya warga sana ketika melakukan Tarian Pendulang Timah
20170921_103728
Suasana di depan SD Laskar Pelangi, pasir berwarna putih ini mengandung timah loh, makanya tempat ini disebut sebagai tempat terpanas di Belitong

Selanjutnya kami menuju Rumah Keong, tempat ini dinamakan Rumah Keong karena terdapat saung-saung rotan dengan bentuk seperti rumah keong. Kami juga menikmati pemandangan danau yang indah di sekitarnya. Selain itu terdapat beberapa perahu kecil yang dapat digunakan sebagai objek foto. Di sini kami duduk santai melepas lelah sambil berfoto-ria. Lucky us, kami mendapat tour guide, Mas Jack yang memiliki kemampuan hebat dalam masalah pengambilan foto. Makanya hasil foto kami di Belitung itu super cakep XD.

20170921_111230
Saung-saung di belakang terbuat dari rotan yang dibentuk menjadi seperti rumah keong
20170921_112033
Foto ala-ala dulu
IMG_20170921_110448(1)
Di rumah keong juga terdapat sebuah danau lengkap dengan perahu yang dapat kita gunakan ketika berfoto

Destinasi berikutnya adalah Museum Kata Andrea Hirata, untuk tiket masuk museum ini tidak termasuk ke dalam paket tour. Harga tiket masuk ke dalam museum ini adalah Rp 50,000 dan kita mendapatkan 1 buah buku Laskar Pelangi. Kesan pertama ketika melihat museum ini adalah UNIK! Tempatnya lucu karena berwarna-warni dan instagramable banget. Di sini terdapat banyak quotes-quotes bagus dari Andrea Hirata maupun tokoh lainnya. Selain itu, di bagian belakang museum juga terdapat Kupi Kuli, sebuah warung kopi kecil tradisional yang masih menggunakan tungku kayu bakar sebagai kompor.

IMG_20170921_114445_HDR
Interior dari salah satu ruangan di dalam museum, dipenuhi dengan quotes dan karya dari Andrea Hirata
IMG_20170921_120816_HDR
Berfoto di depan Museum Kata Andrea Hirata
IMG_20170921_114201
Suasana vintage
IMG_20170921_114621_HDR
Kumpulan buku terjemahan Laskar Pelangi ke berbagai bahasa internasional
IMG_20170921_113406
Salah satu ciri khas di museum ini adalah cat warna-warni yang unik
IMG_20170921_114740_HDR
Kupi Kuli, warung kopi tradisional yang terletak di belakang Museum Kata Andrea Hirata

Puas berkeliling dan berfoto di Museum Kata Andrea Hirata, kami melanjutkan perjalanan ke Kampung Ahok, destinasi terakhir sebelum mengisi perut. Di kampung Ahok ini dibuat sebuah rumah adat panggung khas Belitung berwarna coklat dengan hiasan gambar Pak Ahok di dindingnya. Di sini kita bisa membeli beranekaragam souvenir dengan cetakan gambar Pak Ahok, seperti mug, kaos, gantungan kunci, dan lainnya. Selain itu juga dijual beberapa oleh-oleh khas Belitung dan juga kue kering buatan Mama Ahok loh. Di seberang Kampung Ahok ini terdapat bangunan rumah yang masih ditinggali oleh orangtua Pak Ahok.

IMG_20170921_121323_HDR

IMG_20170921_123004(1)
Suasana di Kampung Ahok, sebuah rumah khas Belitong dijadikan sebagai tempat penjualan berbagai souvenir dengan sablon Pak Ahok

Setelah mengelilingi beberapa objek wisata di kabupaten Belitung Timur, kami memutuskan untuk makan siang terlebih dahulu. Mas Jack membawa kami ke restoran Fega, posisinya terletak di pinggir danau sehingga suasananya sejuk dengan adanya angin sepoi-sepoi. Kami memilih duduk di dekat jendela agar dapat menikmati pemandangan danau. Menu makan siang kami adalah masakan ikan khas Belitung, yaitu Gangan. Bentuknya mirip dengan gulai tetapi terdapat perpaduan rasa asem, pedas, dan gurih. Selain itu juga ada ikan bakar (maaf tidak terfoto karena diantar belakangan, sudah keburu lapar semua), cumi goreng tepung, cah kangkung, dan sate ayam. Salah satu sisi menyenangkan dari mengikuti tour adalah menu kita sudah diatur dan dipesankan terlebih dahulu sehingga kita tidak perlu memikirkan menu apa yang enak dan menunggu lama.

IMG_20170921_130811_HDR
Makan siang di Restoran Fega
IMG_20170921_131218_HDR
Mangkuk cabe yang lucu unyu-unyu

Acara makan siang pun usai, kami melanjutkan eksplorasi kami di Belitung Timur. Vihara Dewi Kwan Im menjadi destinasi kami selanjutnya. Di vihara ini, konon merupakan vihara tertua di Belitung, terdapat patung Dewi Kwan Im. Di kampong halaman saya, Pematangsiantar, juga terdapat patung yang mirip tetapi dengan ukuran lebih besar. Kami bersembahyang dan beristirahat sejenak di sana sebelum melanjutkan perjalanan kami ke Pantai Burung Mandi.

IMG_20170921_142010_HDR

IMG_20170921_142314_HDR
Vihara tertua di Belitung Timur, Vihara Dewi Kwan Im

Pantai Burung Mandi ini dapat dikatakan seperti Ancol-nya Jakarta bagi masyarakat Belitung Timur. Nama pantainya sendiri cukup unik ya, asal-usulnya ada 2 versi loh. Versi pertama, karena di dekat pantai ini terdapat sebuah bukit yang juga disebut dengan nama Gunung Burung Mandi. Sedangkan versi keduanya, konon pada zaman dahulu di pantai ini kabarnya terdapat banyak sekali burung-burung yang sedang mandi. Mas Jack mengatakan bahwa pemandangan pantai ini belum sebagus pulau-pulau yang akan kami kunjungi dalam 2 hari ke depan. Jadi penasaran pulau-pulau lain sebagus apa ya pantainya, karena pantai ini saja sudah cukup bagus menurut aku.

IMG_20170921_150215_HDR
Pantai ini saja sudah bagus kan ya? Tapi pantai untuk hari kedua dan ketiga jauhhhhh lebihh bagus loh!
20170921_150834
Jangan lupa selfie di pantai!

Pukul 4 sore kami beranjak kembali menuju kota Tanjung Pandan. Setelah menempuh perjalan satu setengah jam, kami sampai di hotel Grand Orion, tempat kami bermalam untuk 3 malam ke depan. Mas Jack kembali menjemput kami pukul 19.30 malam untuk menikmati makan malam. Waktu luang tersebut kami manfaatkan untuk mandi dan beristirahat. Tidak lupa juga kami menikmati sunset dari pantai Tanjung Pendam yang dapat dilihat dari jendela kamar.

IMG_20170921_171434_HDR
Dapat kamar dengan beach view

Malamnya kami dibawa ke Ruma Makan Belitong Timpo Duluk. Dari namanya saja sudah bisa ditebak dong bagaimana suasana rumah makan ini. Yak benar sekali, suasana yang ditonjolkan adalah suasana vintage alias jadoel. Semua dekorasi rumah makan ini membuat kita terkenang kembali dengan suasana rumah ala tahun 60an. Bahkan untuk piring dan gelasnya juga ala jadoel loh. Makanan yang dipesankan untuk kami ada Gangan, oseng ati ampela, tahu isi, ayam, dan lalapan. Yang saya sukai dari rumah makan tentu adalah suasana dan dekorasinya.

IMG_20170921_200434_HDR
Fotonya blur, sedih T.T
IMG_20170921_192413_HDR
Makan malam di Timpo Duluk

Selesai menyantap makan malam, kami kembali ke hotel untuk beristirahat. Menyiapkan badan yang lelah setelah hampir tidak tidur semalaman (akibat subuh-subuh sudah harus berangkat ke bandara) karena penjelajahan besok akan lebih menarik lagi!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *