Jepang merupakan salah satu destinasi liburan yang semakin digemari oleh para turis. Apalagi di musim panas tahun 2020 mendatang, Tokyo akan menjadi tuan rumah Olimpiade Musim Panas dan Paralimpiade. Selain itu, adanya penerbangan langsung dari Jakarta – Tokyo menjadi salah satu faktor yang mendorong peningkatan kunjungan wisatawan Indonesia ke Jepang.

Berkunjung ke negara lain ibarat mengunjungi rumah orang. Tentunya kita harus sopan, menjaga sikap, dan mematuhi aturan yang berlaku di sana. Jadi kali ini aku mau share beberapa hal yang perlu kalian ketahui ketika mengunjungi negeri Sakura ini:

Jangan buang sampah sembarangan
Kalau ini sih harus dilakuin di semua negara termasuk negara sendiri sih ya. Yang unik dari Jepang adalah di sini itu kalian gak bakal nemuin tong sampah di tempat umum. Tapi gak ada juga yang buang sampah sembarangan. Sampahnya dikemanain? Sampahnya biasa dibawa pulang dan dibuang di tong sampah masing-masing. Kalau lagi musim Hanami, beberapa taman juga tidak menyediakan tong sampah dan mereka memasang papan pemberitahuan agar sampahnya dibawa pulang masing-masing.

Tapi kadang di Konbini (convenience store) ada disediakan tempat sampah loh. Di samping vending machine minuman juga kadang tersedia tempat sampah, tapi khusus untuk sampah botol plastik dan kaleng minuman.

Tiap kali main ke daerah yang rame turis itu pasti ada sampah tercecer di mana-mana. Beda banget kalau lagi jalan ke daerah perumahan lokal. Jalanannya bersih banget loh. Kalau kalian nginap di Air BnB dan bingung cara pemilahan sampahnya, bisa baca detail-nya di sini. Umumnya sih dibagi menjadi beberapa bagian, yaitu sampah yang bisa dibakar, sampah yang tidak bisa dibakar, botol plastik (PET), dan kaleng.

Naik-turun eskalator di sisi kiri (untuk wilayah Tokyo)
Eskalator pasti banyak kalian temui, baik di stasiun ataupun di mal. Kalau naik eskalator biasa kita diem nyantai nungguin sampai di atas kan ya, kecuali kalau lagi buru-buru. Di Jepang ada aturan bahwa sisi kanan eskalator hanya digunakan untuk orang yang sedang buru-buru. Definisi buru-buru ngerti kan ya? Yang naik eskalator kayak naik tangga, sambil gerak gitu. Sedangkan sisi kirinya digunakan untuk orang-orang yang diam. Untuk hal ini ternyata berbeda di tiap daerah, sepengetahuan aku hal ini berlaku di Tokyo. Untuk daerah lain ada yang di sisi kanan juga.

Jangan nyebrang sebelum lampu penyeberangan menjadi hijau
Jangan pernah nyebrang sebelum lampu pejalan kaki berubah menjadi hijau ya, apalagi kalau di jalan besar. Aku pernah beberapa kali naik bus dan merasa kalau mobil di Jepang itu kencang banget jalannya. Di persimpangan jalan juga mereka gak memelankan kendaraan kalau lampu lalu lintasnya masih hijau. Dan ingat untuk selalu nyebrang di zebra cross ya.

Kalau uda malem, di beberapa zebra cross terdapat papan yang ngasih tau kita untuk pencet tombolnya kalau mau nyebrang. Jadi kalau malem, lampu penyebrangannya udah gak diset otomatis hijau lagi, tapi baru jadi hijau kalau ada yang pencet tombol untuk nyebrangnya. Tapi gak begitu kita pencet lampunya langsung hijau ya, biasa ada jedanya dulu beberapa saat baru jadi hijau.

Antri sebelum naik kereta dan dahulukan yang keluar dulu baru masuk
Di peron kereta tersedia jalur untuk mengantri di depan gerbangnya. Antrilah dengan rapi dan biarkan orang-orang yang turun dari kereta keluar terlebih dahulu, baru kita masuk ke dalam. Ini sebenarnya uda jadi aturan mendasar di semua negara sih, terutama di Indonesia ya.

Gak boleh nelpon di dalam kereta atau bus
Di dalam kereta atau bus itu dilarang banget buat menelepon. Untuk HP juga sebaiknya diatur ke mode silent. Di kereta atau bus diusahakan agar suasananya setenang mungkin, tidak boleh ada yang mendengarkan musik tanpa headset atau bermain game dengan suara keras. Tapi kalau ngobrol boleh kok, asal gak heboh-heboh aja, yang ada nanti dilihatin sama penumpang lainnya.

Naik bus dari pintu depan, bayar, dan turunnya dari pintu samping
Kalau naik bus di Tokyo, kita naik dari pintu depan dan bayar dulu (ada mesin di samping tempat duduk supir, bisa bayar cash atau tinggal tap kartu transportasi). Bus ini gak akan berhenti di setiap halte kalau gak ada penumpang yang menunggu di halte tersebut. Kalau mau turun di halte berikutnya, pencet tombol merah yang disediakan di setiap baris bus. Untuk turun gunakan pintu samping bus. Untuk biaya bus jauh-dekat itu sama harganya, makanya kalau di Tokyo biasanya bayar dulu pas naik.

Untuk poin ini kemungkinan bisa berbeda di tiap daerah di Jepang. Kami pernah naik bus di Shiga Kogen tapi urutannya terbalik. Naiknya dari belakang dan kita ngambil tiket di mesin tiket dekat pintu. Bayarnya pas turun karena harganya tergantung jarak dan turunnya dari pintu depan.

Gak boleh ngefotoin orang Jepang tanpa izin
Orang Jepang itu sangat menjaga privasi. Oleh karena itu kita tidak boleh sembarangan mengambil foto mereka tanpa izin.

Cara antri di toilet
Di Jepang kalau antri di toilet mereka gak langsung antri di depan bilik toiletnya masing-masing. Tapi mereka membentuk line antrian di lorong sebelum bilik toilet tersebut. Menurut aku sistem antrian seperti ini sangat adil. Jadi yang antri duluan bisa masuk duluan ke toilet. Beda dengan sistem antri langsung di depan bilik toilet. Kadang suka ada yang lama banget di dalam toiletnya, jadi kasihan yang ngantri setelahnya.

Beberapa toilet di Jepang juga udah canggih banget, jangan kaget kalau tiba-tiba penutup toilet membuka sendiri, dudukan toilet hanget saat musim dingin, atau toilet tiba-tiba flush sendiri sebelum kita pencet.

Tisu toilet di Jepang biasanya di-flush
Ketika masuk ke toilet, tentunya kalian akan menemukan tisu di sana. Tapi taukah kamu bahwa tisu toilet di Jepang sebenarnya bukan dibuang di tong sampah tetapi di-flush? Hal ini hanya berlaku untuk tisu toilet buatan Jepang dan jangan mencoba untuk me-flush tisu lainnya karena dapat menyebabkan toilet tersumbat. Tisu toilet Jepang didesain untuk dapat terlarut dalam waktu 100 detik, jadi tidak masalah kalau tisu toilet ini di-flush (kecuali jika dipasang warning untuk tidak me-flush tisu toiletnya). Kalau begitu disediain tong sampah untuk apa? Tong sampah digunakan untuk membuang pembalut atau sampah lainnya (misal rol tisu toilet yang sudah habis).

Cara antri di kasir
Antri di kasir juga ada aturannya loh. Biasanya akan disediakan line khusus untuk mengantri. Di lantainya biasa diberi tanda kalau antrian menunggu di sini sampai gilirannya dipanggil ke kasir. Sistem ini biasanya banyak ditemui di toko-toko yang cukup ramai, seperti konbini (convenience store), Daiso, Don Quijote, dan lainnya.

Di beberapa restoran piring kotor dibereskan sendiri
Ini sempat viral di Indonesia ketika KFC menyerukan kampanye untuk beberes sendiri setelah makan. Banyak warganet yang protes dan mengatakan bahwa untuk apa bayar makanan mahal-mahal tapi disuruh beresin sendiri, pembeli adalah raja, dan protes lainnya. Padahal di beberapa negara maju sudah lama diterapkan sistem seperti ini.

Di beberapa restoran di Jepang, kalian akan menemukan counter untuk meletakkan tray dan piring kotor. Setelah makan, piring dibereskan, meja di-lap jika kotor, lalu letakkan piring kotor pada tempat yang tersedia. Jika ada sampah, buang dan pilah sampah sesuai jenisnya (biasanya ada tong sampah di dekat counter meletakkan piring kotor, jika tidak ada dikumpulkan saja di atas piring).

Jika makan ramen atau makanan lainnya di restoran model tradisional (seperti contoh foto di bawah), selesai makan letakkan piring kotor di bagian atas meja untuk mempermudah pegawai restoran untuk mengambil piring. Mereka akan sangat berterima kasih jika kita melakukan hal tersebut. Hal sepele yang kita lakukan mungkin bisa menjadi bantuan yang besar untuk orang lain.

Photo credit to: https://www.pinterest.com/barkagurazaka/

Sekian beberapa hal mendasar yang perlu diketahui selama berkunjung ke Jepang. Kalau ada yang pengen nambahin, komen di bawah ya. Semoga artikel ini bermanfaat bagi para pembaca. See you!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *